visitor

Rabu, 12 Oktober 2011

Coelacanth, ikan purba yang pernah dinyatakan telah punah


Coelacanth

Sebelum tahun 1938, Coelacanth (Latimeria  chalumnae) adalah ikan  purba yang dianggap sudah punah sekitar 80 juta tahun yang lalu dan diperkirakan merupakan nenek moyang dari semua hewan darat di  jaman sekarang. Karena jika dilihat dari fosilnya sirip-sirip dari Coelacanth memiliki tulang dan diperkirakan memiliki  jantung. Akhirnya para ilmuwan pada masa itu menganggap Coelacanth sudah dapat berjalan di darat.
Pada tahun 1938 Coelacanth secara mengejutkan ditemukan masih hidup di  Afrika Selatan. Sampai 14 tahun kemudian dilakukan pencarian dan menhasilkan penemuan rumah sebenarnya dari Coelacanth yaitu di Pulau Comoro. Sejak saat itu sekitar 200 specimen telah ditemukan. Beberapa specimen juga ditemukan di Madagaskar dan Mozambik. Hal ini sangat menggembirakan sekaligus menghancurkan anggapan selama ini bahwa Coelacanth adalah nenek moyang hewan darat karena setelah diteliti tulang pada sirip-sirip Coelacanth tidak terhubung dengan tulang belakang jadi tidak mungkin bisa digunakan untuk berjalan dan organ di fosil yang dikira jantung ternyata adalah sebuah kantung lemak.  Hal ini membuktikan bahwa Coelacanth benar-benar sebuah  ikan yang hanya hidup di air dan bukan nenek moyang hewan darat. Tapi tetap saja penemuan  ini cukup menggemparkan.
Coelacanth (1938)

Para ilmuwan dibuat semakin terkejut ketika pada tahun 1998 ditemukan lagi spesies Coelacanth di perairan Indonesia tepatnya di Sulawesi Utara yang jaraknya 10.000 km dari penemuan pertama 60 tahun yang lalu. Penemuan itu sebenarnya diawali pada bulan September 1997 dimana saat itu ada seorang ilmuwan yaitu Dr. Mark Erdman yang sedang berbulan madu dengan istrinya di Sulawesi, melihat seekor ikan yang aneh dan lain dari ikan yang lainnya. Ikan  itu dibawa oleh seorang  nelayan  lokal. Dengan segera Dr. Mark Erdman dapat mengenali ikan itu sebagai Coelacanth yang pernah ditemukan di Pulau Comoro dan segera mengambil kamera untuk mengambil gambarnya. Sayangnya Dr  Mark Erdman  tidak membeli ikan tersebut.
Coelacanth (1998 - Manado)

September 1997, Dr Mark Erdman kembali ke Sulawesi untuk melakukan pencarian dan penelitian terhadap ikan ini. Dari hasil wawancara dengan 200 orang nelayan selama 5 bulan ternyata ada dua orang nelayan lokal yang bisa mengenali ikan ini dan mereka menyebutnya sebagai Raja Laut. Setelah  mengamati dan  meneliti selama beberapa bulan di Sulawesi akhirnya Dr Mark Erdman menemukan Coelacanth yang kedua dari Sulawesi. Hal ini membuktikan bahwa Coelacanth benar-benar ada dan hidup di perairan Sulawesi. Coelacanth merupakan hewan purba kedua yg ditemukan di Indonesia setelah Komodo.

0 komentar:

Posting Komentar

setelah baca, jangan lupa komentar ya.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

connect with us

Archives

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews